Monday, 18 June 2018

Dasar-Dasar dan Contoh Membuat Sinopsis sebuah Cerita Film atau Sinetron

Dasar-Dasar dan Contoh Membuat Sinopsis sebuah Cerita Film atau Sinetron

Sinopsis yaitu gambaran keseluruhan cerita kasar dari cerita film atau Sinetron. Untuk mengembangkan cerita, ada 7 pertanyaan dasar yang harus dijawab, yaitu:
1. Siapakah tokoh utama dalam film itu?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?
3. Siapa/Apa yang menghalangi tokoh utama untuk mendapatkan keinginannya?
4. Bagaimana pada akhirnya tokoh utama berhasil mencapai apa yang dicita-citakan dengan cara yang luar biasa, menarik, dan unik?
5. Apa yang ingin Anda sampaikan dengan mengakhiri cerita seperti itu?
6. Bagaimana Anda mengisahkan cerita Anda?
7. Bagaimana tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung lain mengalami perubahan dalam cerita ini?

Beberapa contoh berikut menjawab 7 pertanyaan sebagai dasar pengembangan cerita.
1. Siapakah tokoh utamanya?
Jawab:   Bob Parr dan keluarganya.

2. Apa yang diinginkan/didambakan tokoh utama?
Jawab: Bob ingin menjadi penyelamat dunia dengan kekuatan supernya, melindungi, dan memba-hagiakan keluarganya, serta hidup normal se-perti orang-orang biasa walaupun memiliki kekuatan super.

3. Siapa/apa yang menghalangi tokoh utama untuk mendapatkan yang diinginkan?
Jawab: Buddy Pine (Syndrome), Gilbert Huph (atasan Bob di insurance company), dan juga dihalangi oleh pemberitaan di media massa yang membawa citra buruk bagi Mr. Incredibles.

4. Bagaimana pada akhirnya tokoh utama berhasil mencapai apa yang dicita-citakan dengan cara yang luar biasa. menarik. dan unik?
Jawab: Untuk mengalahkan robot menggunakan senjata robot sendiri dan remote control untuk mengendalikan robot, juga kekuatan dan kerjasama dari sebuah keluarga dan sahabat.

5. Apa yang ingin Anda sampaikan dengan mengakhiri cerita seperti ini?
Jawab:   Cinta,   kerjasama,   dan   keluarga mampu menaklukkan segalanya.

6. Bagaimana Anda mengisahkan cerita Anda?
jawab: Dengan sudut pandang orang ketiga, tanpa flashback, tanpa narasi, dan musik yang digunakan untuk menekankan tema, adegan, dan pola

7. Bagaimana tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung lain mengalami perubahan dalam cerita ini?
Jawab: Bob Parr akhirnya menyadari bahwa untuk menghadapi masalah atau penjahat, kekuatan kerja sama dan keluarga lebih tangguh dari pada menghadapinya dengan kekuatan sendiri. Helen Parr kembali memiliki percaya diri dan menyadari kekuatan elastisitas dirinya serta mendukung anak-anaknya untuk menggunakan dan memanfaatkan kekuatan super untuk kebaikan. Dash menjadi anak yang bangga terhadap keluarganya walau sedikit nakal dan belajar menggunakan kekuatannya secara proportional. Sementara itu, Violet menjadi lebih percaya diri dan berhasil meningkatkan kekuatan supernya.


Contoh lainnya adalah dalam film Petualangan Abdan.


1. Siapakah tokoh utama dalam fim tersebut? 

Jawab: Abdan.

2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?

Jawab: Ingin mengetahui mengapa ayah dan ibunya meninggalkan dirinya, dan ingin menjadi o-rang yang berguna kelak saat dia dewasa.

3. Siapa/Apa yang menghalangi tokoh mama untuk mendapatkan keinginannya?

Jawab: Waktu dan kesulitan hidup, juga seorang teman sekolah, anak orang kaya yang bernama Dono (Dono muncul dalam episode selanjutnya).

4. Bagaimana pada akhirnya tokoh utama berhasil mencapai apa yang dicita-citakan dengan cara yang luar biasa, menarik, dan unik?

Jawab: Belajar dari kejadian alam, nasehat-nasehat neneknya, berusaha keras, dan berdoa.

5. Apa yang ingin Anda sampaikan dengan mengakhiri cerita seperti ini?

Jawab: Optimisme, selalu berpikir positif. belajar dari kesalahan, membaca alam semesta, sayang terhadap sesama, serta hormat pada orang tua. Kesabaran dan doa merupakan kunci keberhasilan untuk bertahan hidup dan mencapai kesuksesan.

6. Bagaimana Anda mengisahkan cerita Anda?

Jawab: Dengan sudut pandang orang ketiga, beberapa cerita flashback, dengan kekuatan musik, serta mengambil hikmah dari pembacaan alam semesta, dan kekuatan religi dan kasih sayang kepada sesama.

7.   Bagaimana tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung lain mengalami perubahan dalam cerita ini?

Jawab: Abdan akhirnya mengerti rahasia-rahasia dalam kejadian alam dan pengalaman hidup yang dilaluinya. Jono mengerti bahwa kekua¬tan tidak hanya pada lisik semata, melainkan dari kecerdasan berpikir dan bertindak. Miskan tidak takut lagi menghadapi masalah dan memandang kehidupan dengan sikap optimis.

SAVE THE DAY

THE INCREDIBLES merupakan kisah tentang petualangan sebuah keluarga super hero di Amerika dengan kekuatan super yang berbeda-beda di antara mereka. Salah satu superhero tersebut bertopeng dan menyamarkan identitas aslinya (Bob Parr sebagai Mr. Incredible) yang selalu memerangi kejahatan dan menjadi penyelamat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, 15 tahun yang lalu, dia dan istrinya Helen (elastigirl) dipaksa untuk pensiun dan menjadi masyarakat biasa karena berbagai tuntutan hukum dan permasalahan yang memojokkan mereka serta pemerintah yang menugaskan mereka. Kini, mereka harus hidup dengan berbagai kesulitan hidup dan harus terlihat normal bersama keluarga dan anak-anak mereka (Dash, Violet, dan Jack-Jack). Sebagai seorang karyawan di perusahaan asuransi, Bob merasa sangat bosan dan memimpikan kembali masa lalunya. Hingga suatu saat, dia menerima sebuah pesan rahasia dari seorang wanita misterius yang memberikan kesempatan untuk berpenghasilan besar dan menjadi super hero kembali dengan menyetujui sebuah kontrak perjanjian rahasia.


Di suatu pagi hari Minggu, udara sejuk, langit cerah, matahari mulai terbit di atas Gunung Wilis yang dihiasi oleh hutan-hutan yang hijau menambah keindahan alam pagi itu. Sungai-sungai mengalir dengan derasnya, dan menimbulkan suara gemericik yang indah. Sungai itu melalui sebuah desa yang damai, yaitu desa Banjarsari, 

Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Penduduknya ramah, suka bergotong royong, senang bersilaturahmi, serta giat bekerja keras. Pagi itu mereka menuju ke sawah dengan kerbau dan peralatan bajaknya.

Desa Banjarsari merupakan sebuah desa hadiah dari Kerajaan Majapahit kepada salah satu prajurit pilihan yang telah mengabdi pada kerajaan dengan jiwa dan raganya. Prajurit tersebut bernama Mohammad Bin Umar. Beliau adalah pendiri Desa Banjarsari. 

Kini, desa ter-sebut terlihat mengikuti perkembangan zaman dan merupakan desa yang mendapatkan berbagai penghargaan serta telah menghasilkan beberapa pahlawan bangsa.

Di desa Banjarsari tersebut, terdapat sebuah rumah kecil mungil tetapi bersih. Di dalamnya, tampak seorang anak sedang bermain catur dengan ayahnya dengan riang gembira. Ayahnya bercita-cita agar kelak si anak menjadi pecatur yang andal. Anak tersebut bernama Abdan. Dalam sebuah permainan catur, ayahnya sengaja mengalah untuk menyenangkan anaknya. Setelah memenangkan permainan catur dengan ayahnya, Abdan berteriak sambil mengangkat tangannya untuk meluapkan kegembiraannya karena untuk pertama kalinya ia memenangkan permainan catur dengan ayahnya.

"Aku menang ...aku menang ....aku menang!" teriaknya. Kemudian, ia meminta hadiah "naik kambing-kambingan" dan sebagai kambingnya adalah ayahnya. Setelah merebahkan tubuhnya, ayahnya merangkak seperti kambing sambil me-nirukan suara kambing, "Embek....embek.... em-bek," dan Abdan menaikinya.

"Ayo lari kambing!" teriak Abdan sambil memukul-mukul tubuh ayahnya. Ayahnya mengikuti permintaan Abdan sambil mempermainkannya sehingga Abdan tertawa terbahak-bahak.
Setelah cukup lama, ibunya meminta mereka untuk berhenti. "Kambingnya istirahat dulu dan penggembalanya minum dulu," kata ibunya sambil memberikan minum kepada Abdan dan mengelus-elus kepalanya. Setelah selesai minum, Abdan bermain-main lagi.
"Abdan sekarang naik menghadap ke belakang ya Ayah, biar bisa melihat Ibu," kata Abdan sambil melihat ibunya. Hari itu, Abdan merasa sa-ngat berbahagia.

Ayahnya mempermainkannya semakin keras, Abdan pun tertawa semakin terbahak-bahak. Tiba-tiba, "Duk.." kepala Abdan membentur lantai dan terjatuh.
"Sakit... Sakit ...Ibu...huu..," Abdan menangis keras.

Terbangunlah Abdan dari tidurnya, baru saja ia bermimpi bertemu kedua orangtuanya. Dia lalu memanggil ibunya berulang-ulang, layaknya anak-anak yang masih kecil. "Ibu...Ibu," dengan suara yang semakin keras. Ia belum menyadari bahwa ibunya telah pergi. Kemudian, terdengar-lah suara langkah kaki, "Srek..srek..srek." Abdan mengira ibunyalah yang datang, ternyata suara itu adalah neneknya. Abdan kemudian menanya-kan keberadaan ibunya. "Nek, Ibu di mana?"

Neneknya diam seribu bahasa. Ia merasa bi-ngung bagaimana harus menjawab pertanyaan Abdan. Abdan mengulang kembali pertanyaan tersebut.

"Nek, Ibu di mana?" tanya Abdan agak men-desak.
Neneknya pun terpaksa menjawab terus te-rang, "Ibu kamu pergi, Dan."

Bangkitlah Abdan dari tempat tidurnya, kemudian memanggil - manggil ibunya, "Ibu.... Ibu..Ibu," sambil menangis dan berlari mengejar ibu dan ayahnya yang telah pergi. Ia menuju pintu depan. Begitu sampai di pintu depan, ternyata pintu rumah tersebut telah dikunci oleh neneknya. Ia lalu berusaha membukanya, tetapi tidak bisa. Kemudian, Abdan lari ke pintu bela-kang yang ternyata juga sudah ditutup oleh neneknya dan ia tidak bisa membukanya. Ketika ia menuju pintu samping, ternyata pintu itu pun dikunci juga. Di depan pintu samping itu, Abdan memukul-mukul pintu sambil menangis dan memanggil-manggil ibunya.
"Ibu...Ibu...Ibu..huuu," neneknya hanya bisa melihat kejadian itu, tanpa mampu menahan air matanya. Setelah itu, neneknya mendekatinya dan memeluk serta menciumnya. Abdan pun menangis di pangkuannya.

Demikian dasar-dasar dalam pembuatan Sinopsis sebuah cerita berikut dengan contohnya. Semoga Ada manfaatnya.
Readmore → Dasar-Dasar dan Contoh Membuat Sinopsis sebuah Cerita Film atau Sinetron

Thursday, 27 April 2017

Pengertian, Keunikan, Gagsan, Teknik, Karya, Seni Kriya, Nusantara

Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang banyak terdapat di wilayah Nusantara. Seni kriya sering disebut juga seni kerajinan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Poerwadarminta istilah kriya artinya pekerjaan (kerajinan) tangan. Kerajinan artinya barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan bukan dengan mesin. Contohnya, barang-barang kerajinan rumah tangga, seperti tikar, anyaman, dan gerabah. Di samping itu, terdapat istilah craft yang berasal dari kata handicraft yang artinya keahlian. Dalam pembuatan karya kerajinan dituntut keahlian dan keterampilan tangan yang tinggi.

Seni kriya dihasilkan melalui keterampilan tangan bukan dengan mesin

Seni kriya telah dibuat oleh bangsa Indonesia sejak zaman prasejarah dengan menciptakan berbagai macam peralatan berburu, bercocok tanam, ataupun benda-benda praktis lainnya. Tujuan pembuatan benda-benda tersebut adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman, teknik pembuatan karya seni kriya semakin bervariasi dan menunjukkan adanya peningkatan yang sangat pesat. Hal ini terbukti dengan diciptakannya peralatan canggih dalam pengolahan bahan baku ataupun proses pembuatannya. Sebagai contoh, dalam membelah kayu sebagai bahan untuk membuat perabot rumah tangga tidak lagi dengan cara-cara tradisional seperti menggunakan kapak atau sabit, tetapi menggunakan gergaji mesin yang lebih modern. Penggunaan gergaji mesin membuat pemotongan dan pembelahan kayu dapat sesuai dengan ukuran yang diharapkan. Demikian pula, bentuk yang dibuat saat ini sangat bervariasi.

Keunikan Gagasan dan Teknik dalam Karya Seni Kriya Nusantara


Alat tulis dengan hiasan wayang merupakan salah satu contoh karya seni kriya yang unik
Seni kriya sebagai aktivitas manusia dalam berolah rasa muncul bersamaan dengan adanya kehidupan manusia di muka bumi. Hasil aktivitas tersebut berupa bentuk-bentuk karya yang sederhana seperti pada awal lahirnya kebudayaan zaman prasejarah hingga mencapai bentuk yang lebih kompleks seperti zaman modern sekarang ini. Pertumbuhan seni didasari oleh pandangan manusia yang dinamis dalam konsep, proses, dan keahlian berkarya seni. Oleh karena itu, manusia dapat menghasilkan beragam karya, baik menyangkut gagasan, tema, bentuk, bahan yang dipakai, maupun teknik serta prosedur pembuatannya. Setiap masyarakat di wilayah Nusantara memiliki filosofi, pandangan hidup, atau cara pandang tentang makna.

Keunikan Gagasan dalam Karya Seni Kriya Nusantara



Hiasan berbentuk bunga yang memiliki keunikan gagasan dan teknik pembuatannyaKeragaman karya seni kriya di wilayah Nusantara berdasarkan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kriya seni dan kriya terapan. Karya kriya seni yaitu karya kriya yang diciptakan semata-mata sebagai media ekspresi, pemaparan atau pengungkapan pikiran sekaligus perasaan, cita-cita, dan keinginan melalui bentuk rupa untuk memberikan kepuasan batiniah atau rohaniah. Tujuan utama penciptaan karya kriya seni adalah untuk mengungkapkan ekspresi jiwa, gagasan,

dan ide untuk kepentingan artistik serta estetik tanpa dikaitkan dengan kepentingan praktis. Oleh karena itu, karya kriya seni termasuk karya seni murni. Karya seni murni diciptakan semata-mata hanya untuk ekspresi bagi kepentingan estetis dan bukan untuk hal-hal lain yang berkaitan dengan fungsional praktis. Oleh karena itu, dalam penciptaannya tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Karya kriya seni banyak dipakai sebagai hiasan, contohnya pada ruang tamu sebuah rumah, kantor, atau hotel yang tujuannya untuk dinikmati keindahannya.

Pengertian kriya terapan adalah karya kriya yang dapat digunakan untuk kebutuhan atau kepentingan sehari-hari, misalnya perabot rumah tangga seperti meja, kursi, lemari dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk kebutuhan sehari-hari, maka dalam penciptaannya harus mempertimbangkan berbagai aspek, seperti fungsi, bentuk, dan teknik produksi.

Karya seni kriya banyak terdapat di Nusantara dengan ide atau gagasan yang bermacam-macam. Selama kurun waktu yang panjang, bangsa Indonesia banyak menciptakan karya seni kriya sebagai ciri khas Indonesia serta disesuaikan dengan watak bangsa, letak geografis, dan kemampuan para seniman.

Keragaman etnis banyak menyumbangkan ide atau gagasan dalam pcnciptaan bentuk karya seni kriya di Indonesia.

Keragaman karya tersebut ada yang masih asli, tetapi ada pula yang telah dipengaruhi oleh budaya asing, seperti bangsa India, Cina, Persia, dan Eropa. Percampuran kebudayaan antara bangsa lain dengan kebudayaan Indonesia tampaknya memberi perubahan-perubahan, baik secara internal maupun eksternal.

Mesin Tenun yang masih sederhana
Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa yang menghuni wilayah Nusantara. Sudah sejak lama masyarakat Nusantara memiliki kemampuan dalam menciptakan peralatan yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupnya, seperti peralatan rumah tangga, peralatan berburu, menangkap ikan, dan lain-lain. Dalam berkarya mereka menggunakan teknik dan peralatan yang berbeda-beda. Penguasaan teknik dan ketersediaan peralatan yang dibutuhkan berpengaruh terhadap karya yang dihasilkan.

Benda-benda seni kriya yang dibuat oleh masyarakat Indonesia melalui berbagai macam teknik. Berbagai teknik yang dipakai dalam pembuatan karya kriya yang terdapat di Indonesia di antaranya sebagai berikut :

Teknik ukir yaitu membuat benda-benda kerajinan dengan cara membentuk dan mengurangi bahan yang diukir dengan menggunakan peralatan ukir, seperti pahat atau tatah ukir. Bahan yang diukir, antara lain: kayu, batu, tulang, atau tembaga. Di samping teknik ukir ada juga teknik pahat.
Hampir setiap daerah di wilayah Indonesia menghasilkan karya seni ukir dan pahat yang memiliki keunikan tersendiri.

Contohnya, karya seni pahat kayu dari Bali dan karya pahat dari suku Asmat Papua. Masing-masing karya ukir dan pahat tersebut memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. 


Teknik tenun yaitu membuat benda-benda kerajinan berupa kain tenun dengan cara menganyam. Bahan yang ditenun biasanya berupa benang yang dianyam dan dijalin saling silang disesuaikan dengan motif hias yang dibuat.

Teknik menenun sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah di daerah pedalaman Kalimantan dan Sulawesi. Pada umumnya motif hias yang diterapkan pada kain tenun mencerminkan unsur-unsur yang berkaitan dengan kepercayaan. Pertenunan di Nusantara mulai berkembang setelah masuknya para pedagang India dan Arab membawa kain tenun ke Indonesia dan selanjutnya dipelajari oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pesisir. Kemudian, tenun berkembang pesat di beberapa daerah, seperti Kalimantan, Sulawesi, NTT, Lampung, Bali, dan Lombok. Pada umumnya corak dan motif hias yang ditampilkan pada kain tenun tersebut berbeda-beda, sesuai dengan ragam hias daerahnya masing-masing.

Teknik batik yaitu memberi hiasan atau motif pada kain dengan cara memberi gambar pada kain dengan malam atau lilin panas menggunakan alat canting, kemudian diberi warna dengan zat pewarna khusus, seperti napthol. Bahan yang dibatik di antaranya kain, kayu, dan bambu. Di daerah-daerah wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa banyak terdapat sentra industri kerajinan batik, seperti Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, Garut, dan Cirebon. Kain batik yang dihasilkan dari masing-masing daerah memiliki corak dan motif yang berbeda-beda sehingga menjadi ciri khas daerahnya.

Menurut sejarahnya, asal usul munculnya seni batik belum jelas hingga sekarang. Ada yang berpendapat bahwa seni batik berasal dari Indonesia, tetapi ada yang menyatakan bahwa batik berasal dari India. Pendapat mana yang benar tentang polemik itu belum diketahui secara jelas, tetapi karya batik Indonesia telah diakui dunia karena batik Indonesia memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, baik menyangkut bahan, warna, maupun ragam hiasnya.

;
Pada umumnya ragam hias pada kain batik di Nusantara mengambil bentuk-bentuk geometris dan nongeometris. Bentuk geometris yaitu menyerupai bentuk-bentuk ilmu ukur, seperti segitiga, lingkaran, dan segiempat. Bentuk-bentuk geometris ini kemudian dikembangkan, dimodifikasi, dan diolah menjadi ragam hias di antaranya berbentuk pilin berganda, meander, dan tumpal, yaitu berupa bentuk segitiga berderet yang di dalamnya diberi hiasan.

Bentuk nongeometris berupa bentuk-bentuk alam dan tidak menyerupai bentuk ilmu ukur. Bentuk nongeometris, seperti bentuk flora, fauna, batu, awan, dan lain-lain. Umumnya bentuk alam tersebut diolah dengan cara distilasi atau di gayakan sehingga mencapai bentuk yang indah.

Selain teknik yang telah disebut di atas, masih banyak teknik pembuatan karya seni kriya yang terdapat di wilayah Nusantara, seperti teknik membentuk, butsir, dan rangkai. Hasil dari setiap teknik pembuatan karya memiliki keunikan atau kekhasan tersendiri.

Readmore → Pengertian, Keunikan, Gagsan, Teknik, Karya, Seni Kriya, Nusantara

Wednesday, 28 December 2016

Definisi Konsep Musik, Teknik Vokal, Organ Penggerak Suara

Musik merupakan cabang seni yang sangat akrab bagi kita, bahkan musik sudah dikenal manusia sejak zaman purba, yang menurut peninggalan arkeologis sudah ada sejak zaman Sumeria (5000 SM). Berbeda dengan seni rupa, seni tari, dan seni drama yang kita nikmati secara kasat mata dengan alat indera visual (penglihatan), musik harus dinikmati dengan indera audial, yaitu indera pendengaran, karena yang kita nikmati dari seni musik adalah keindahan bunyi.
Banyak ahli yang berusaha mendefinisikan pengertian musik karena begitu indah dan menggugah rasa, serta juga biasa digunakan untuk mengiringi upacara-upacara persembahan kepada para dewa, sehingga musik dianggap sebagai "bahasa para dewa". Beberapa ahli yang memiliki pendapat tersendiri mengenai tentang musik, berikut di antaranya:

a
David Ewen menyatakan bahwa musik adalah ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan, terutama aspek emosional.
b.
Schopenhauer, filsuf Jerman abad ke-19, berpendapat bahwa musik adalah melodi yang syairnya adalah alam semesta.
c.Dello Joio dari Amerika Serikat menyatakan bahwa mengenal musik dapat memperluas pengetahuan dan pandangan, selain juga mengenal banyak hal lain di luar musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain di luar suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi.
d.Suhastjarja, dosen ISI Yogyakarta, berpendapat bahwa musik ialah ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran yang bulat, dalam wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai suatu bentuk dalam ruang waktu yang dikenal oleh diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan hidupnya, sehingga dapat dimengerti dan dinikmati. Oleh karena bentuk musik itu terbentang di ruang yang sifatnya spasial, ia dapat disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra ditulis secara horizontal, bentuk-bentuk musik ditulis secara horizontal dan vertikal. Arah horizontal menunjukkan dimensi waktu yang menunjukkan awal dan akhir, sedangkan arah vertikal menunjukkan dimensi akustik musikal yang berarti harmoni (keselarasan).

Berdasarkan definisi-definisi dari para ahli di atas, dapat dirumuskan secara singkat bahwa musik adalah seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala rasa indah manusia yang ingin diungkapkan, terutama aspek emosional. Musik dapat memperluas pengetahuan dan pandangan selain juga mengenalkan banyak hal lain di luar musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain di luar suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi.
Coba perhatikan, organ tubuh manakah yang paling berperan ketika kamu bernyanyi? Orang awam akan menjawab, mulut. Jawaban itu tentu tidak salah, karena peranan mulut beserta organ bagian-bagiannya, seperti bibir dan lidah, memang sangat vital untuk bernyanyi. Akan tetapi, sebenarnya masih banyak organ tubuh yang berperan untuk bernyanyi. Organ-organ tubuh tersebut untuk menghasilkan teknik bernyanyi yang andal dan dapat menghasilkan nyanyian yang merdu, yaitu sebagai berikut.


Organ tubuh ini berfungsi menggerakkan serta mendorong udara sehingga mampu menggerakkan pita suara dan menghasilkan suara. Bagian tubuh yang termasuk organ penggerak adalah sebagai berikut.
a
Paru-paru. Dalam kegiatan bernyanyi, paru-paru berfungsi untuk menghirup udara. Udara tersebut, setelah dimanfaatkan untuk mendapatkan 02 bagi tubuh dalam aktivitas pernapasan, sisanya diembuskan keluar melalui tenggorokan dan hidung. Embusan udara inilah yang dimanfaatkan untuk menggetarkan pita suara sehingga menghasilkan suara. Kapasitas (daya tampung) paru-paru dalam menampung udara akan berpengaruh terhadap panjang-pendeknya suaramu. Oleh karena itu, jika kamu menginginkan memiliki kemampuan bernyanyi dengan jangkauan suara yang panjang, kamu harus melatih organ paru-paru agar memiliki kapasitas yang semakin besar. Teknik melatih paru-paru dalam kegiatan bernyanyi disebut sebagai latihan pernapasan.
b.
Laring (pangkal tenggorok). Laring merupakan organ tubuh tempat pita suara berada. Dari luar, laring dapat dilihat di dekat jakun. Pita suara inilah yang mula-mula menghasilkan suara. Jika terkena sentuhan udara yang diembuskan oleh paru-paru, pita suara akan bergetar membuka, menutup, merentang, atau mengerut untuk membentuk suara dan menghasilkan nada setelah dikoordinasikan dengan alat-alat artikulasi di rongga mulut dan hidung. Oleh karena itu, laring sangat penting fungsinya untuk melindungi pita suara.
c.
Faring (batang tenggorok). Organ ini menghubungkan laring dengan rongga mulut dan rongga hidung. Organ ini sangat rentan dengan gangguan udara. Jika organ tubuh ini terganggu, akan menimbulkan radang dan di dalamnya akan terproduksi banyak lendir yang menimbulkan rasa gatal. Kamu tidak akan dapat bernyanyi dengan maksimal jika organ ini terganggu. Oleh karena itu, kebersihan organ tubuh ini dari lendir akan menghasilkan suara yang merdu. Pernahkah kalian dengar orang melakukan gurah? Gurah adalah salah satu cara membersihkan faring dari lendir yang dapat mengganggu aliran udara ketika bernyanyi. Di ujung atas dari faring terdapat organ tubuh yang disebut tonsil (anak tekak). Di tempat itulah manusia menghasilkan nada-nada tinggi.
d.Diafragma (sekat rongga dada)Diafragma adalah otot besar yang melintang di antara rongga dada dan rongga perut. Fungsinya mengatur kerja paru-paru secara otomatis. Gerakan diafragma memberi kesempatan rongga dada untuk mengembang dan mengempis. Dalam kaitannya dengan teknik bernyanyi, diafragma sangat bermanfaat untuk memperbesar kapasitas paru-paru.

Organ Penggetar
Organ tubuh yang tergolong sebagai alat penggetar dalam menghasilkan suara adalah pita suara. Pita suara berbentuk jaringan tenunan otot yang tipis dan elastis berwarna kekuningan. Jika disentuh udara yang diembuskan paru-paru, pita suara akan bergetar dan menghasilkan suara. Pita suara milik anak laki-laki lebih panjang daripada milik anak perempuan. Inilah yang menyebabkan suara laki-laki lebih rendah daripada suara perempuan. Baik pada laki-laki maupun perempuan, pada fase tertentu, pita suara akan mengalami perubahan sehingga suara pun akan mengalami perubahan. Biasanya perubahan ini mengikuti usia.


Posisi pita suara yang berbeda-beda akan menghasilkan suara yang berbeda-beda pula.
a
Terbuka lebar. Apabila pita suara terbuka lebar, udara akan keluar dari paru-paru tanpa hambatan. Dalam posisi seperti itu akan dihasilkan suara h.
b.
Tertutup rapat. Jika pita suata tertutup rapat, laring juga ikut tertutup. Maka, udara dari paru-paru akan terhambat dan akan menghasilkan suara hamzah (hambat glotal).
c.
Bagian atas terbuka sedikit. Jika pita suara bagian atas terbuka sedikit, akan menyebabkan udara dari paru-paru akan menggetarkan pita suara. Dalam posisi seperti itu, akan dihasilkan suara yang jika diolah oleh alat ucap (artikulasi) akan menghasilkan aneka macam suara.
d.
Bagian bawah terbuka sedikit. Pada posisi pita suara tersebut, akan dihasilkan suara-suara lemah karena udara yang berembus dari paru-paru akan keluar begitu saja tanpa kekuatan. Suara demikian cocok untuk berbisik dan bernyanyi dengan teknik bersenandung.
Readmore → Definisi Konsep Musik, Teknik Vokal, Organ Penggerak Suara

Saturday, 8 October 2016

Cabang-Cabang Seni Rupa, Seni Patung, Sening Lukis, Seni Grafis, Seni Kriya

Keindahan dalam seni rupa adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni rupa, baik yang dwimatra maupun yang trimatra. Sedangkan media dalam pembuatan seni rupa sangat bervariasi. Keragaman dalam penggunaan media ini menyebabkan munculnya berbagai jenis karya seni rupa. Pada bab ini, kamu akan mempelajari bentuk dan fungsi karya seni rupa, cabang-cabang seni rupa, dan kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa, khususnya seni terapan yang ada di daerahmu dan di Nusantara.

Bentuk dan Fungsi Karya Seni Rupa


Berdasarkan bentuknya, karya seni rupa terbagi atas seni rupa dua dimensi (dwimatra) dan tiga dimensi (trimatra). Ciri seni rupa dua dimensi hanya dapat dinikmati dari satu arah, karena hanya memiliki ukuran panjang dan lebar, misalnya lukisan, kain batik, seni fotografi, dan sebagainya. Sedangkan seni rupa tiga dimensi dapat dilihat atau dinikmati dari berbagai arah, karena memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi, misalnya patimg, meja, kursi, dan sebagainya. Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa dapat digolong-kan menjadi dua, yaitu sebagai seni pakai (applied art) dan seni yang berfungsi sebagai hiasan saja (fine art).

Setiap jenis karya seni rupa memiliki bentuk dan ciri khusus. 
Menurut cirinya, karya seni rupa dapat dibagi dalam beberapa cabang, yaitu sebagai berikut. 


  • Seni patung. Seni patung merupakan perwujudan ekspresi dan gagasan ke dalam karya tiga dimensi. Kemajuan seni patung di Indonesia ditandai sejak zaman Hindu-Buddha yang diwujudkan dalam bentuk arca dan relief dari batu. Patung yang berukuran besar sering diwujudkan sebagai monumen, misalnya patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, patung Selamat Datang di Jakarta, dan patung-patung bertema perjuangan yang tersebar di wilayah tanah air. Seni patung dalam ukuran kecil umumnya terdapat pada benda-benda kerajinan yang kebanyakan berbahan kayu, batu marmer, dan fiber. 
  • Seni lukis. Seni lukis berwujud dua dimensi. Seni lukis biasanya dibuat di atas media kain kanvas, kertas, dan kaca. Peralatan yang digunakan untuk menggambar atau melukis dapat berupa cat minyak (acrylic), cat air, cat poster, dan sebagainya. Gaya penggambaran dalam melukis juga sangat beragam, yang dinamakan aliran. Aliran atau corak dalam seni lukis ini merupakan ciri khas dan keunikan yang terdapat pada karya-karya tersebut. Ada aliran realis, naturalis, ekspresionis, impresionis, abstrak, surealis, maupun romantis. Sejarah seni lukis di Indonesia dipenuhi para pelukis handal seperti Raden Saleh (perintis seni lukis Indonesia, yang hidup pada zaman perang Diponegoro), S. Sudjojono, Henk Ngantung, Affandi, Basoeki Abdullah, Pimgadi, dan masih banyak lagi.

  • Seni grafis.  Seni grafis adalah seni membuat gambar dengan alat cetak (klise). Misalnya, sablon (cetak saring), cukil kayu (cetakan), etsa (pengasahan pada bahan metal), dan percetakan dengan bahan batu litho. 





  • Seni kriya Seni kriya berwujud dua atau tiga dimensi. Seni kriya sering disebut sebagai seni kerajinan, yaitu seni yang dibuat untuk menyajikan kebutuhan hidup sehari-hari. Tumbuh suburnya seni kriya di tanah air erat kaitannya dengan nilai komersial. Setiap pengrajin akan membuat beberapa benda pada setiap jenis seni kriya yang dibuatnya. Termasuk dalam golongan seni kriya, antara lain seni pahat, seni anyam, keramik, batik, dan tenun. 
  • Seni desain Desain dalam pengertian yang sebenarnya adalah suatu gambar rancangan. Namun pengertian seni desain di sini penekanannya ialah pada produk yang dihasilkan. Sejalan dengan perkembangan industrialisasi, seni desain telah dianggap sebagai cabang seni tersendiri dalam seni rupa, karena proses, teknik, dan bentuknya yang juga memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan perkembangan teknologi modem. Seni desain terbagi dalam beberapa cabang, namun ada dua kelompok seni desain yang sudah populer, yaitu sebagai berikut lain-lain. 
  • Desain Produk (Product Design) Desain produk berwujud peralatan dan benda kebutuhan sehari-hari. Misalnya, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi, pakaian, perumahan, peralatan elektronik, dan sebagainya.



  • Kegiatan Apresiasi Karya Seni Rupa

    Apresiasi memiliki arti penting, baik bagi pencipta karya seni maupun bagi pengguna karya seni. Apresiasi merupakan sarana penghubung di antara keduanya. Pencipta karya seni dalam hal ini adalah seniman, desainer, atau pengrajin yang telah memvisualisasikan ide-ide kreatifnya. Sedangkan pengguna karya seni adalah penikmat atau masyarakat. Arti kata apresiasi sendiri adalah suatu penghargaan (iappreciate). Dengan demikian, jika masyarakat memiliki apresiasi yang tinggi terhadap suatu karya seni maka hal itu ibarat lahan yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya karya-karya kreatif berikutnya. 

    Bentuk apresiasi Kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung atau tidak langsung. 
    • Apresiasi secara langsung Proses apresiasi secara langsung dilakukan apabila pengamat berhadapan langsung dengan wujud karya seni yang diapresiasi. Dalam hal ini, pengamat dapat menilai dengan jelas bentuk, warna, tekstur, dan unsur- unsur lainnya. Pengamatan langsung dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat pusat kerajinan, ke museum, galeri, dan lain-lain. 
    • Apresiasi secara tidak langsung Proses apresiasi secara tidak langsung dilakukan melalui bantuan media tertentu. Misalnya, dari buku, foto reproduksi, media cetak, media elektronik, dan lain-lain. Apresiasi secara tidak langsung ini memang dapat dilakukan di sembarang tempat. Namun pengamatan terhadap objek karya tidak didapatkan dengan peng-hayatan secara mendalam. 
    Tahapan dalam proses apresiasi
    Untuk melakukan kegiatan apresiasi, setidaknya perlu diketahui bentuk dan tahapan dalam proses apresiasi, yaitu sebagai berikut. 
    • Pengamatan terhadap objek karya Kegiatan apresiasi diawali dengan pengamatan terhadap objek karya. Dalam hal ini, pengamat berhadapan dengan karya yang diapresiasi, misalnya patung, karya batik, wayang, karya kerajinan, dan sebagainya. 
    • Pemahaman atau penghayatan terhadap karya seni Tahap kedua adalah upaya memahami atau meng¬hayati karya seni tersebut. Melalui pemahaman atau penghayatan tersebut, pengamat telah melakukan usaha untuk mengetahui lebih jauh tentang unsur-unsur rupa serta keunikan lainnya yang terdapat pada objek karya. 
    • Penilaian dan penghargaan (apresiasi) Pada tahap ini, dilakukan pengambilan keputusan tentang seberapa bernilai atau berharganya suatu karya. Penilaian tersebut tentunya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif.
    Copy Link Artikel ini http://tinyurl.com/senipatung
      Readmore → Cabang-Cabang Seni Rupa, Seni Patung, Sening Lukis, Seni Grafis, Seni Kriya

      Friday, 7 October 2016

      Berekspresi Melalui Karya Seni Rupa

      Berekspresi Melalui Karya Seni Rupa


      Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan karya tekstil, salah satunya adalah karya seni tradisional tenun ikat dan songket. Semenjak zaman batu prasejarah nenek moyang kita sudah mengenal teknik dalam berkarya seni terutama teknik grafisnya. Melihat hasil karya dari nenek moyang kita yang sudah dari dulu berkreatif, bagaimana dengan kita yang sekarang ini sudah memiliki perangkat yang lebih lengkap dan canggih. Tentu anda punya kesempatan yang banyak untuk berkarya lebih kreatif. Dengan adanya hasil karya Anda, maka dapat mengemasnya dengan sedemikian rupa sehingga bisa dipamerkan dalam kegiatan pameran sekolah ataupun pameran yang diselenggarakan oleh para pencinta seni. Untuk itu Anda bisa belajar tentang tenun dan grafis sekaligus cara membuatnya, serta tata cara melakukan kegiatan pameran di kelas atau sekolah.

      Kain Tenun Nusantara

      Semenjak zaman kebudayaan Dongson prasejarah karya tenun sudah terbentuk. Dengan proses waktu yang panjang karya tenun berikut dengan segala macam teknik serta corak hiasannya sudah mengalami perkembangan sehingga terciptalah sebuah karya tekstil yang bernilai seni yang tinggi sehingga dapat menjadi sumber ekonomi bagi para pembuatnya.

      Jenis-jenis kain tenun

      Dalam hal kain tenu terdapat dua jenis,  yaitu tenun ikat dan tenun songket. Yang membedakannya adalah bahan yang digunakan dan teknik pembuatannya.

       Kain Tenun ulap doyo dan Kain Songket Sutra
      1. Tenun ikat. Adalah kain tenun yang proses pembentukan ragam hiasnya dibuat dengan cara mengikat bagian-bagian benangnya. Sejarah pembuatan tenun Nusantara diawali dengan adanya tenun ikat lungsi yang sudah ada sejak zaman prasejarah. Tenun ikat lungsi adalah tenun yang teknik pembentukan ragam hiasnya dibuat dengan cara mengikat benang lungsinya, yaitu benang yang vertikal. Persebaran tenun ikat lungsi, antara lain di Toraja, Sulawesi Selatan, Minahasa (Sulawesi Utara), Batak (Sumatra Utara), Sumba (NTT), Flores, dan di pedalaman Kalimantan. Pada perkembangan selanjutnya, dikenal pula pembuatan tenun dengan teknik ikat pakan (jalur horizontal). Bahan-bahan yang digunakan dalam tenun ikat adalah benang kapas, dapat juga menggunakan benang sutra alam, seperti pada tenun ikat Nusapenida (Bali) dan Padang. Tenun ikat ini oleh sebagian masyarakat lebih dikenal dengan sebutan kain ulos.
      2. Tenun songket. Tenun songket atau populer dengan sebutan kain songket adalah jenis kain tenun yang penciptaannya dimulai setelah adanya tenun ikat. Teknik pembuatan tenun songket sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah dengan adanya teknik pakan tambahan dan lungsi tambahan. Namun kain songket yang menggunakan benang emas, benang perak, atau benang sutra mulai diterapkan semenjak adanya hubungan perdagangan kerajaan di Sumatera dengan orang-orang asing terutama dari Cina. Benang sutra yang didapatkan dari luar diterapkan dalam kain tenun yang kemudian dikenal dengan sebutan kain songket. Kain songket adalah kain tenun yang dibuat melalui suatu teknik memberikan benang tambahan berupa benang emas, benang perak, atau benang sutra dengan cara dicukit atau disongket. Pembentukan corak pada tenunan sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan, yang membentuk desain itu sendiri. Ada desain benang sutra yang ditempatkan di atas dasar benang kapas. Ada desain yang terbentuk dari jenis benang yang sama, misalnya dari sesama benang kapas atau sesama benang sutra, atau dari jenis benang lainnya. Daerah-daerah tertentu di Indonesia yang menjadi awal pembuatan songket, antara lain Palembang (Sumsel), Donggala (Sulteng), Bugis (Sulsel), dan Bali.
      Readmore → Berekspresi Melalui Karya Seni Rupa

      Macam-macam Pengertian Kriya Seni Menurut Ahli





      Download Artikel Format Pdf



      Readmore → Macam-macam Pengertian Kriya Seni Menurut Ahli

      Menerapkan Ragam Hias Pada Bahan Tekstil

      PENGERTIAN BAHAN TEKSTIL



       Pengertian Bahan TekstilIstilah tekstil memiliki cakupan cukup luas karena jenisnya yang sangat beragam. Kain pada umumnya dibuat dari serat yang dipintal sehingga menghasilkan benang panjang untuk ditenun atau dirajut. Jenis proses pembuatan kain antara lain dengan cara ditenun, diikat, dan dipres.

      Perkembangan teknologi pembuatan kain juga diikuti perkembangan jenis bahan baku yang dapat dikerjakan. Satuan yang terkecil dari bahan adalah serat. Serat (fiber) adalah sel atau jaringan serupa benang atau pita panjang yang berasal dari hewan atau tumbuhan (ulat, batang pisang, daun nanas, kulit kayu, dan sebagainya) yang digunakan untuk membuat kertas, tekstil, dan sikat. Serat yang mudah kita jumpai adalah serat pada kain. Sesuai dengan asal serat, serat tekstil dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu serat alami dan serat sintetis (serat buatan manusia).

      a.Serat Alami Serat alami adalah serat yang diperoleh dari tumbuhan atau hewan dengan proses geologis. Contohnya, serat sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil yang berasal dari laba-laba (sutra) atau bulu domba (wol).
      b.Serat sintetis atau buatan. Serat buatan adalah serat yang berasal dari buatan manusia yang umumnya berasal dari bahan petrokimia. Serat buatan ini merupakan polimer-polimer buatan yang disusun dengan cara kopolimerasi senyawa-senyawa kimia yang relatif sederhana, yang menghasilkan serat (fiber), seperti nilon, perlon, dakron, teriline, trivera, terlenka, tetoron, prinsip, bellini, laceri, larici, orion, cashmilon, silk, dan caterina.

      KLASIFIKASI RANCANGAN TEKSTIL



      Rancangan tekstil memiliki jenis yang sangat beragam. Oleh karena itu, kalian perlu memahami terlebih dahulu cakupan berbagai jenis kain yang dibuat dengan cara ditenun, diikat, dipres, dan berbagai cara lain yang banyak dilakukan dalam pembuatan kain. Kain pada umumnya dibuat dari benang atau serat yang ditenun atau dirajut dengan tujuan menghasilkan barang yang biasanya memiliki bentuk memanjang. Kualitas pada kain sangat ditentukan oleh jumlah serat, jenis atau tektur serat, variasi dalam tenunan, dan rajutan. Proses perancangan karya tekstil dapat dijelaskan sebagai berikut.
      a.Perancangan berdasarkan struktur dilaksanakan pada waktu pembuatan kain, contohnya anyaman tenun, jeratan, atau jalinan renda.
      b.Perancangan berdasarkan permukaan dilaksanakan setelah pembuatan kain selesai, contohnya adalah batik, printing, sulaman, bordir, atau songket.
      c.

      Perancangan penerapan hasil tekstil yang dilaksanakan setelah kain telah berupa pakaian, contohnya pada tekstil kebutuhan rumah tangga.

      ORNAMEN

      Pengertian ornamen adalah hiasan dalam arsitektur atau kerajinan tangan, yang pada penjelasan untuk bab ini adalah menghias kain yang bertujuan untuk memberi nilai tambah pada kain agar lebih bagus dan menarik. Selain itu, ornamen juga memiliki nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan (falsafah) hidup dari masyarakat pembuatnya sehingga benda-benda yang dihias dapat memiliki arti dan makna yang mendalam.


       Ornamen Tekstil

      aMenggambar Ornamen Primitif. Ornamen primitif merupakan karya seni yang diciptakan pada zaman purba atau primitif. Ornamen ini memiliki ciri sederhana, tegas, dan kaku yang merupakan ekspresi manusia pada saat itu. Ornamen primitif yang berkembang sejak zaman prasejarah merupakan pencerminan tingkat kehidupan manusia pada zamannya.
      b.






      Menggambar Ornamen Tradisional dan Klasik. Ornamen tradisional dan klasik merupakan seni hias yang dalam pengungkapannya menurut norma atau aturan-aturan masyarakat. Seni hias ini diwariskan secara turun temurun sehingga nilai-nilai masyarakat selalu dijunjung tinggi, baik dalam teknik maupun proses pembuatannya. Perkembangan ornamen tradisional mendapat pengaruh dari perkembangan pola hidup masyarakatnya sehingga keragaman ini memiliki ciri khas pada masing-masing daerah. Beberapa ciri khas ornamen tradisional, antara lain:

      a.keseragaman dari masing-masing corak (homogen);

      b.kemiripan antara daerah yang satu dengan daerah lainya;

      c.

      karya kolektif (dari beberapa motif membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai motif daerah tertentu);

      d.sederhana. 
      Ciri khas tersebut bisa diterapkan pada bidang dua maupun tiga dimensi yang memiliki fungsi sebagai elemen dekorasi. Beberapa jenis ornamen tradisional dengan bentuk geometris yang sampai sekarang masih dipakai untuk motif kain adalah truntum, parang, dan kawung.
      Ornamen modern berkembang dari pembaharuan pola-pola yang sudah ada sebelumnya atau seni yang penggarapannya didasarkan pada cita rasa baru, kreatif, dan merupakan sebuah penemuan baru. Ornamen modern merupakan seni yang bersifat kreatif, tidak terbatas pada objek-objek tertentu, waktu, dan tempat melainkan ditentukan oleh cita rasa dan pengalaman batin penciptannya. Ciri-ciri ornamen modern adalah:
      arasional (masuk akal);
      b.kompetitif (selalu mencipta dan bersaing dalam proses kreatif);
      c.ekologis berkesinambungan (terjadi perubahan dalam proses);
      d.rumit;
      e.progresif (bebas tidak terkait dengan aturan-aturan tertentu);
      f.individual (sangat personal menurut penciptanya).

      JENIS DAN BAHAN PEWARNA



      Pewarna tekstil terdiri atas dua jenis, antara lain pewarna alami dan pewarna buatan. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan dengan pengecapan atau printing, dan ada juga pewarnaan tekstil yang dilakukan dengan cara celupan, coletan, atau kuasan.

      Semua pewarna tekstil dapat digunakan untuk pengecapan, hanya saja perekatan di dalam serat berbeda-beda. Pewarna tekstil yang mudah didapatkan adalah pewarna yang bahan dasarnya berasal dari pigmen. Perajin atau industri yang banyak menggunakan pewarna ini adalah tekstil printing atau sablon.

      Sebelum pewarna sintetis masuk ke Indonesia, pewarna tekstil menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan, di antaranya adalah kulit pohon tingi, kulit pohon jambal, dan kulit pohon tegeran. Bahan-bahan tersebut kemudian akan menghasilkan warna sebagai berikut:
      No.
      Warna
      Keterangan
      1.
      HitamDihasilkan dari indigo yang ditumpangi soga atau tingi
      2.
      Biru tuaDihasilkan dari daun nila
      3.
      Cokelat atau sogaDihasilkan kulit pohon jambal, kulit pohon tegeran, kulit pohon tingi
      4.
      UnguDihasilkan dari indigo ditumpangi soga
      5.
      KuningDihasilkan campuran kunyit, cuka, pohon tegeran, tawas, dan jeruk
      6.
      HijauDihasilkan biru indigo ditumpangi kunyit
      7.
      Merah tuaDihasilkan dari pohon mengkudu
      Namun, karena warna alami memiliki keterbatasan jumlah, maka dimulailah pembuatan warna sintetis yang memiliki ragam warna lebih banyak. Pewarna sintetis merupakan zat yang berasal dari zat kimia. Proses pembuatan warna sintetis biasanya melalui penambahan asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun sehingga berbahaya jika masuk ke dalam tubuh. Berikut adalah beberapa macam warna sintetis:

      Pewarna ini kebanyakan digunakan untuk pewarna kain batik karena memiliki daya serap yang baik pada kain katun. Jenis pewarna ini baik untuk pencelupan dalam kondisi dingin. Komponen zat pewarna naptol terdiri atas dua jenis, yaitu naptol dan garam atau diazonium.
      No.
      Naptol
      Diazonium (Garam)
      1.
      Naptol ASBiru B
      2.
      Naptol ASDBiru BB
      3.
      Naptol ASGHitam B
      4.
      Naptol ASDLViolet B
      5.
      Naptol ASBOMerah GG
      6.
      Naptol ASGRMerah R
      7.
      Naptol ASLB biasaMerah 3GL
      8.
      Naptol ASLB ekstraMerah 3 GL spesial
      9.

      Jingga GG
      10.

      Jingga GL
      11.

      Kuning GG
      12.

      Biru Hijau B
      Keterangan: sebagai pembangkitnya adalah soda costik atau TRO (turkish red oil) yang memudahkan naptol larut dalam air.


      Indigosol

      Perwarna ini adalah pewarna tekstil yang jenis warnanya sangat bervariasi, larut dalam air, dan memiliki ketahanan warna yang baik. Pemakaian indigosol untuk pewarna tekstil bisa dilakukan dengan coletan atau celupan.
      No.
      Jenis
      Keterangan 
      1.
      Indigosol cokelat IRRG
      2.
      Indigosol kuning FGK
      3.
      Indigosol kuning IGK
      4.
      Indigosol hijau IB
      5.
      Indigosol hijau 13G
      6.
      Indigosol violet BF
      7.
      Indigosol jingga HRsa
      8.
      Indigosol merah AB
      9.
      Indigosol abu-abu IBL
      10.
      Indigosol biru 048
      11.
      Indigosol biru 068




      Procion

      Pewarna ini tergolong pewarna reaktif. Untuk melarutkannya, procion ditambah dengan air dingin, soda abu, garam dapur, malesil, dan lisapol. Jenis procion, antara lain sebagai berikut.
      No.
      Jenis
      Keterangan
      1.
      Procion merah MX2B, MX5B, MX8B
      2.
      Procion biru MX2G dan MXG
      3.
      Procion jingga MX 2R
      4.
      Procion cokelat MXBR
      5.
      Procion MX 6 G P dan MX4R

      Rapid

      Rapid dalam proses pembatikan jarang digunakan, khususnya untuk celupan karena sulit untuk merata. Rapid kebanyakan digunakan untuk coletan pada gambar atau bidang yang tidak terlalu luas. Ketahanan rapid kurang baik sehingga mudah luntur, sehingga jenis pewarna ini jarang digunakan.



      No.
      Jenis
      Keterangan
      1.
      Rapid jingga RH
      2.
      Rapid biru BN
      3.
      Rapid hitam G
      4.
      Rapid hijau N-16G
      5.
      Rapid kuning 6 CH

      TEKNIK BERKARYA 

      Teknik berkarya berdasarkan permukaan dilaksanakan setelah pembuatan kain, artinya mengubah atau menambah motif sehingga kain akan memiliki nilai tambah. Pada teknik berkarya kali ini, kalian berlatih menerapkan motif atau ragam hias pada media tekstil dengan cara menggambar. Sementara itu, media yang digunakan adalah kaos, cat tekstil, papan alas, dan kuas. Berikut adalah langkah-langkahnya: 

      1.siapkan kaos berwarna putih; 
      2.berilah alas permukaan kaos dengan menggunakan papan yang telah disediakan; 
      3.buatlah sketsa pada permukaan kaos, kemudian kuaskan cat berwarna gelap untuk mendapatkan outline gambar;
      4.warnailah dengan rapi.

       Donwload Artikel Pengertian Bahan Tekstil
      Readmore → Menerapkan Ragam Hias Pada Bahan Tekstil

      Hiasan Ornamen Dari Pohon Kayu Dengan Pola, Corak, Motif Ukiran, Kayu, Pohon, Ornamen, ukir, Pahat, Fungsional, hias, pola, Konstruktif, Corak, Motif, Estetika

      Menerapkan Ragam Hias dari Bahan Kayu

      Kegiatan Mengamati


      1.Amatilah bentuk-bentuk ukiran kayu yang ada di sekitar Anda. Jika anda tidak menemukan ukiran tersebut, amatilah gambar-gambar ukiran kayu berikut.

      Jenis Ukiran Dari Kayu

      2.Kenalilah ragam bentuk dan corak pada ukiran kayu tersebut.

      Kegiatan Menanya

      Setelah mengamati ukiran kayu tersebut, rumuskanlah pertanyaan terkait hal-hal yang kamu amati. Lihatlah pertanyaan nomor 1 sebagai contoh.
      1. Jenis ragam hias apa saja yang terdapat pada bahan kayu?
      2. ____________________________________________________________________
      3. ____________________________________________________________________
      4. ____________________________________________________________________
      5. Dan seterusnya.

      Kemudian, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang telah anda rumuskan tersebut. Anda dapat menjawabnya sendiri atau dengan bantuan teman atau guru.

      BAHAN KAYU

      Indonesia merupakan negara yang mempunyai hutan yang luas lebih kurang ada 4000 jenis pohon berkayu yang menyebar di seluruh Nusantara. Namun, dari jumlah tersebut belum semuanya dimanfaatkan untuk kerajinan, baru sebagian kecil saja yang lumrah digunakan untuk bahan baku sebagai kerajinan. Kau merupakan bahan baku yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembuatan suatu karya. Sebagai media untuk aplikasi ragam hias, kayu sangat memegang peranan yang penting dalam pengerjaan menggambar atau memahat ragam hias. Seiring dengan perkembangannya, penggunaan Jenis kayu untuk dipahat perlu disesuaikan dengan sifat serta warna kayu yang diharapkan tampilan hasilnya sesuai dengan rancangan. Jenis-jenis kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan produk yang memiliki unsur hias, antara lain sebagai berikut.


      No.
      Jenis
      Keterangan
      1.
      Kayu sono kembang (Pterocarpus indies)
      Kayu ini banyak tumbuh dan berkembang di daerah Sumatera, Jawa, dan Maluku. Sifatnya lebih lunak dibandingkan dengan kayu sono keling, digunakan untuk pembuatan mebel kayu dan suvenir, warnanya muda dan mengarah pada warna merah sampai ungu.
      2.
      Kayu sono keling (,Dalbergia latifolia)
      Kayu ini banyak tumbuh dan berkembang di daerah Sumatera, Jawa, dan Maluku. Kayu sono keling banyak digunakan untuk pembuatan perabot rumah tangga (mebel) karena dari sifatnya yang mudah dibentuk dan diukir. Warna kayu merah gelap dan mempunyai garis-garis hitam di atas permukaannya yang halus dengan arah serat lurus dan kadang berombak.
      3.
      Kayu jati (Tectona grandis)
      Struktur kayu ini kuat dan tidak mudah retak, serta mudah untuk dibentuk dan diukir. Selain itu, cocok untuk pembuatan interior rumah dan mebel. Pohon yang banyak tumbuh di daerah Jawa, Sulawesi, dan Sumatera ini mempunyai sifat yang berbeda-beda sesuai daerah geografisnya. Kayu jati mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan kayu-kayu lain, baik dari strukturnya yang kuat, keindahan seratnya sangat bagus, mudah untuk diolah menjadi produk apa pun, terutama mebel sampai pada relief ukir kayu dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Kayu ini memiliki warna cokelat kekuningan. Berdasarkan seratnya, kayu jati dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
      • Jati Sejati: warna cokelat keputihan hingga cokelat tua, kadang-kadang mengandung unsur ungu, merah, dan hitam.
      • Jati Kapur: seratnya mengandung bintik-bintik putih yang mengandung kapur.
      • Jati "Ri" (duri): memiliki banyak bintik-bintik mata kayu.
      • Jati Gembol: serat kayu berkelok-kelok membentuk pola tutul. Warnanya kecokelatan dan hitam.
      4.
      Kayu mahoni (Sweetenia mahogany)
      Serat kayu padat, pola urat lembut, warna berkisar dari cokelat kekuningan hingga cokelat tua kemerahan. Banyak digunakan untuk mebel-mebel bergaya Eropa karena dari sifatnya yang mudah diukir dan dibentuk. Kayu jenis kayu termasuk ke dalam kayu yang tidak terlalu berat.
      5.
      Kayu jelutung (Dyera costulata)
      Kayu ini biasa disebut kayu "meh" (Jawa), berwarna putih dan putih kekuningan dengan serat kayu lurus dan sedikit lunak, tetapi kekuatannya tidak mudah untuk dipatahkan. Kayu ini cenderung digunakan untuk pembuatan mebel lemari. Tumbuh di daerah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Palembang, Bangka, Jambi, Kalimantan, dan Jawa.
      6.
      Kayu ebony (Diospyros spp)
      Memiliki serat yang lembut, lurus, dan sangat keras. Di Bali, kayu ini banyak digunakan untuk inlay dan craft untuk patung-patung yang berukuran kecil. Pada dasarnya, kayu ini tidak mudah untuk dibentuk, sehingga jarang digunakan untuk mebel yang meliuk.
      7.
      Kayu cendana (Santalun album)
      Kayu cendana mudah untuk dibentuk. Warnanya cerah kekuningan dan putih dengan serat lurus berwarna cokelat. Pohon ini tumbuh di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur.
      8.
      Kayu ulin (.Eusideroxylon)
      Kayu ulin memiliki sifat yang mudah retak dan biasa digunakan untuk pembuatan mebel. Biasanya digunakan bukan sebagai bahan utama, tetapi sebagai bahan tambahan.
      9.
      Kayu sawo kecik
      Seratnya sangat halus, warna cokelat kemerahan hingga berwarna cokelat tua.
      10.
      Kayu nangka
      Seratnya banyak, berbintik putih karena banyak mengandung zat kapur. Warna kuning mengarah kecokelatan. Termasuk jenis kayu ringan dan biasa digunakan untuk mebel.
      11.
      Kayu renggas
      Kayu ini seperti kayu nangka dengan serat lebih besar dan lebih berbobot. Kelebihan lainnya adalah kayunya lebih mengilap.
      Namun, kebanyakan kayu yang sering dipergunakan untuk karya seni ukir adalah kayu mahoni dan kayu jati dengan alasan bahan yang mudah ditemukan, mudah dibentuk, mudah diukir, secara struktural sangat kuat, dan seratnya indah.
      Readmore → Hiasan Ornamen Dari Pohon Kayu Dengan Pola, Corak, Motif Ukiran, Kayu, Pohon, Ornamen, ukir, Pahat, Fungsional, hias, pola, Konstruktif, Corak, Motif, Estetika

      Ragam Hias dan Teknik Bekarya Dengan Bahan Baku Kayu

      Ragam Hias dan Teknik Bekarya Dengan Bahan Baku Kayu

      RAGAM HIAS


       Ragam Hias
      Pada artikel sebelumnya, diterangkan bahwa ragam hias disusun dari sekumpulan pola hias, sedangkan pola hias disusun dari sekumpulan motif hias. Artinya, Anda dapat menciptakan pola hias pada media kayu baik berbentuk dua maupun tiga dimensi sehingga pada praktiknya nanti, kalian dapat menggambar, menempel, atau mengukir ragam hias. Jenis-jenis ragam hias yang dapat dijadikan rujukan adalah ragam hias berdasarkan kaidah penyusunannya, misalnya motif geometris, motif binatang, motif tumbuhan, dan motif benda alam lainnya.
      Motif Ukir Maja Pahit

      Gambar di atas merupakan ragam hias dengan motif Majapahit berupa lung uket dengan daun angkup yang menelungkup pada lung pokok. Bagian kanan kiri serta bagian atas tumbuh daun terubusan atau semen. Penyusunannya secara berulang berderet mengikal ke kanan atau ke kiri dan sering simetris dalam mengisi bidang hiasnya.

      Contoh di atas merupakan salah satu penerapan ragam hias pada bahan kayu. Pada perkembangannya, motif ini juga dapat dikembangkan pada benda atau barang-barang kerajinan daerah, seperti contoh gambar berikut.

      Meja Hias Ekslusif

      Alam Nusantara yang diberkahi dengan hutan tropisnya yang kaya menjadikan bahan baku untuk kerajinan kayu relatif mudah didapat. Teknik berkarya menggunakan kayu ini sudah dilakoni sejak zaman prasejarah dan makin berkembang dengan keunikannya pada zaman kerajaan. Teknik berkarya dengan menggunakan kayu ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu menggambar, menempel, dan mengukir pada permukaan kayu.

      Kayu memiliki karakteristik menyerap benda cair, karena itu sebelum kita menggambar, permukaan kayu terlebih dahulu dihaluskan dengan menggunakan ampelas sehingga permukaan kayu menjadi rata dan halus. Sebaiknya setelah diampelas, dilakukan pelapisan cat dasar kemudian diampelas ulang dengan nomor ampelas yang lebih besar. Setelah mendapatkan permukaan yang halus dan padat barulah dilakukan penggambaran. Perhatikan gambar berikut ini.

      Teknik berkarya pada bahan kayu biasa disebut sebagai seni ukir. Mengukir adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola diatas permukaan benda yang diukir.

      1. Seni Ukir Kayu

      Seni ukir kayu atau ukiran kayu merupakan gambar hiasan yang dibentuk dengan cara dipahat untuk mengurangi bagian kayu untuk menimbulkan bentuk cekung dan cembung sehingga membentuk permukaan yang indah. Istilah seni ukir kayu sudah tidak asing lagi karena dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat karya ini di lingkungan rumah juga di lingkungan sekolah. Penerapan karya ukir dapat kita jumpai pada rumah adat. Misalnya pada berbagai rumah adat Jawa, Batak, Melayu, Dayak, dan sebagainya. Selain itu, ukiran kayu juga terdapat pada produk perlengkapan rumah tangga, seperti kursi, meja, lemari, tempat tidur, dan perlengkapan lainnya.

      Pola ukir kayu di Indonesia memiliki motif yang berbeda-beda di tiap daerah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan budaya masyarakat serta topografinya. Seni ukir kayu ini merupakan hasil kebudayaan masyarakat dan perwujudan nilai serta isi yang mencerminkan budaya masyarakat yang ada pada saat itu dan masih digunakan sampai sekarang. Dengan kata lain, bahwa seni ukir kayu diciptakan dan dipedomani dengan pola-pola budaya masyarakat yang bersangkutan maka hasilnya merupakan pencerminan dari budaya masyarakat pendukungnya. Merancang karya seni ukir kayu sebaiknya memiliki kriteria sebagai berikut.
      Karya seni ukir harus memiliki nilai fungsional atau nilai fungsi pakai. Seperti rumah adat untuk rumah tinggal atau perabot rumah berupa meja kursi ukir untuk ruang tamu, ruang makan, teras rumah, lemari ukir untuk menyimpan pakaian, lemari pajangan, dan bingkai cermin.

      Karya seni ukir agar kokoh harus didukung oleh konstruksi yang baik yang berhubungan pada setiap komponen. Konstruksi kekuatan fisik ukiran sebagai daya keindahan dapat dilihat pada gambar berikut.

      c. Keindahan (estetika)

      Nilai keindahan karya ukir kayu yang baik memiliki kaidah kaidah dalam mengapreasiasi karya di samping kerumitan juga tata letak dan irama.
      Peralatan yang dapat digunakan untuk membuat benda pakai maupun benda hias banyak ragamnya, seperti peralatan dasar pertukangan, serut (planner), gergaji, pahat, meteran, pensil, penggaris siku. Sementara alat untuk mengukir di antaranya, aneka jenis pahat ukir, serta palu kayu.

      Peralatan Ukir

      Istilah penguku muncul karena matanya yang melengkung meyerupai kuku manusia. Jenis pahat ini digunakan untuk bagian yang lengkung, melingkar, membentuk cekung, dan cembung.

      Penyilat adalah pahat mata lurus. Jenis pahat ini digunakan untuk memahat bagian-bagian yang lurus, rata, datar, membuat dasaran, membuat siku-siku pada tepi ukiran dengan ukuran mata 2 mm hingga 3 cm.
      Pahat kol adalah jenis pahat yang mempunyai bentuk melengkung belahan V2 bulatan, digunakan untuk mengerjakan bagian-bagian cekung, yang tidak dapat dikerjakan dengan memakai pahat kuku. Pahat kol terbagi menjadi dua macam, antara lain pahat kol datar yang permukaannya datar dan punggungnya cembung dan pahat kol suru yang permukaannya cekung seperti suru dan punggungnya cembung dengan ukuran bervariasi dari 0,5 cm - 1,5 cm.

      Jenis pahat ini berbentuk miring meruncing dan tajam sebelah. Pahat ini cocok digunakan untuk membersihkan sudut dan sela-sela ukiran untuk menyempurnakan bentuk-bentuk ukiran sehingga kelihatan rapi dan bagus dengan lebar antara 0,8 cm sampai 1,5 cm.


      Palu (gandhen) untuk keperluan mengukir ini terbuat dari kayu dengan berat palu antara 300 gram sampai 500 gram. Bahan untuk palu atau gandhen dipilih dari kayu yang keras dan ulet agar berat dan awet.

      f. Pethel

      Pethel adalah sejenis alat yang bentuknya seperti cangkul, tetapi berukuran kecil. Alat ini digunakan untuk meratakan permukaan kayu atau untuk menguliti kulit kayu.

      Sebelum mulai mengukir kayu, dibutuhkan pola atau rancangan yang ingin kita pindahkan ke atas kayu. Pola merupakan merupakan gambaran awal atau rencana benda yang akan kita kerjakan dalam bentuk gambar kerja. Gambar kerja yang baik harus menampilkan gambar tampak atas, tampak depan, tampak samping, dan tampak perspektif. Setelah kita dapatkan pola, langkah selanjutnya yang harus kita kerjakan, yaitu sebagai berikut.

      1. Ngethaki (memahat garis-garis ukiran) Memahat garis bertujuan untuk memindahkan gambar pola ke benda kerja dan menyamakan gambar di atas kertas dengan gambar yang ada di permukaan kayu. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti karena
      keterikatan ukurannya.

      2. Dasari
      Membentuk pola ukiran dengan menyesuaikan ciri-ciri dari masing-masing motif atau bentuk yang cekung dibuat cekung dan yang cembung dibuat cembung. Pada tahap ini, pemahat harus tahu dengan pasti bentuk dan karakter dari motif yang diinginkan pada gambar.


      Proses ini adalah membentuk pahatan pada motif batang, daun, dan bunganya. Memahat dengan tujuan menurunkan bagian-bagian gambar ukiran yang dikehendaki menurut besar-kecilnya gambar dan tebal-tipisnya kayu.


      Melanjutkan pekerjaan membuka permukaan kayu (mbukaki) dengan membentuk ukiran yang belum sempurna, sekaligus menentukan dangkal serta timbul dan cekungan daun ukiran.


      Setelah pekerjaan selesai, pada dasarnya untuk menjadikan barang tersebut menjadi barang yang menarik pengukir harus mengecek masing-masing motif, apakah terjadi kejanggalan atau tidak. Jika terjadi kejanggalan, maka perlu diperbaiki sehingga hasil pahatan atau ukiran akan kelihatan bersih dari kotoran dan bersih dari sisa pahatan.

      6. Matuti

      Untuk memperoleh hasil ukiran yang baik,.tidak bisa terlepas dari rancangan desain atau gambar awal. Kesamaan bentuk dan ketepatan dari masing-masing motif harus dibuat luwes dengan memperhatikan karakter serta gambar pada ukirannya.


      Mbenangi adalah proses membentuk benangan atau garis pada motif batang, daun, dan bunga, serta membentuk garis pada sekukan daun dan bunga. Disebut mbenangi karena besar pahatannya sebesar benang sehingga tinggal menyesuaikan besar-kecilnya ukiran yang kita buat. Memberi hiasan atau memberi aksen pada daun ukiran, mencoret dengan menggunakan pahat "V" agar hasil pahatan lebih indah.

      8. Mecahi

      Proses ini dilakukan jika pola gambar menuntut detail dengan tujuan agar daun ukiran lebih hidup atau lebih indah.

      Penyelesaian akhir merupakan pekerjaan akhir dari tahapan pengerjaan ukir kayu. Finishing bertujuan untuk meningkatkan nilai produk suatu barang, baik nilai keawetan, nilai keindahan, maupun nilai ekonomis. Secara umum, manfaat dari finishing adalah untuk meningkatkan nilai keindahan, meningkatkan keawetan, meningkatkan nilai kekuatan terhadap gesekan dan pukulan, meningkatkan nilai guna bahan baku kayu, dan meningkatkan nilai ekonomis suatu produk. Teknik finishing yang biasa diterapkan pada ukir kayu yaitu politur.

      Politur merupakan penyelesaian akhir dengan menggunakan bahan yang terdiri atas seriak spiritus dan bahan pewarna. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan yang larut dalam air, misalnya oker, warna emasan dalam bentuk serbuk halus, naptol, jelaga, dan lain-lain. Akan tetapi, sekarang sudah banyak bahan finishing yang siap digunakan seperti aqua politur.
      Readmore → Ragam Hias dan Teknik Bekarya Dengan Bahan Baku Kayu